Skip to main content

cerita cerita kenapa lama tidak menulis cerita



Februari 2023 adalah tahun pertama saya keluar negeri tidak bersama orang tua. sepasang anak kembar ini sudah meyelesaikan sekolahnya, bekerja di perusahaan keluarga, dan setelah perusahaan mulai mencetak profit yang baik dan kami berdua sudah mengumpulkan cukup uang, kami memutuskan untuk memulai perjalanan rutin ke luar negeri berdua.

dengan modal research berminggu-minggu dan sedikit pengalaman diajak orang tua berada di beberapa negara, di 2023 itu kami melakukan segalanya berdua. mulai dari mem-booking tiket pesawat, memilih hotel, menyelesaikan pembayaran, mempelajari sistem transportasi, membeli kebutuhan selama di negara tersebut (seperti sim card & transportation card yang bisa dibeli di e-commerce di Indonesia) mempelajari daerah, mencari tau makanan halal, belajar mendalam atas banyak peraturan (peraturan negara, negara tujuan, imigrasi, aviation, Airlines, etc) sampai membuat itinerary yang sangat personal yang menyesuaikan budget, durasi tinggal dan apa yang kami inginkan selama berada di negara tujuan.

hari yang kami tunggu akhirnya tiba. untuk pertama kalinya kami harus melakukan segala prosesnya berdua. mulai dari check-in, masuk lounge dan bayar sendiri, time keeping untuk ke imigrasi, menjawab pertanyaan di imigrasi dan menjalani penerbangan internasional kami untuk pertama kalinya, tidak bersama orang tua. 

and we did it! we landed safely in Changi Airport. hari itu, aroma bandara yang menjadi salah satu mesin penggerak ekonomi Singapura itu masih jelas di ingatan saya. Jewel Changi Airport yang dibicarakan orang orang menjadi tujuan pertama kami di Singapura setelah kami selesai makan hainanese chicken rice halal di staff canteen T1, tempat di mana singapore national dish yang masih berusaha saya replicate untuk dapat rasa yang sama sampai hari ini. 

YAH IN SHORT SAYA MASIH BELUM BERHASIL BIKIN YANG SEENAK ITU. 

hahaha :)


perjalanan pertama, 
dan perjalanan - perjalanan setelahnya. 

Kuala Lumpur, Pulau Pinang, sampai Hong Kong di pinggir laut Asia Timur. 
tidak termasuk perjalanan ke Singapura setiap bulan Januari. 

yang tidak pernah ada ceritanya. 



i don't know at the first, and now i found the why. 

the slow-burn love, old-fashioned and gentle. the kind of love that i chooses every day.

because i do photograph in traditional way. 

-

fotografi bagi saya itu intentional, dan harus dengan kamera. bisa di-setting dari awal biar hasilnya cakep, dan masih bisa di-edit dengan lightroom & pixelmator pro biar makin cakep. tipikal hasil karya yang bisa saya pandang-pandang dan saya sayang-sayang. 

sedangkan mengambil gambar dengan smartphone itu bagi saya occasional.. karena isi gallery smartphone saya kebanyakan bukti transfer. saya masih belum menemukan cara bagaimana cara mengurai cerita dari sebuah foto yang diambil dengan kamera yang sama dengan foto dokumentasi nota - nota. 

iya, yang moto-nya kudu pakai microsoft lens itu. (biar rapi ceunah)

antara old-fashioned atau emang saya sesuka itu sama fotografi, atau ya sesederhana saya udah pro aja, intinya kalo takes photograph, saya harus pake camera. titik. karena ketika menulis cerita, saya butuh nuansa. saya harus bisa kembali kepada suasana di mana saya berada di sana. dan sejauh ini belum saya temukan smartphone yang mampu memberi saya feel tersebut.

karena fotografi adalah cara saya bercerita, dan kata-kata adalah cara saya membekukan waktu. cara yang paling sunyi, tapi paling saya sukai. 

jadilah, saya membeli kamera fujifilm mirrorless ini setahun yang lalu sebelum saya berangkat ke Hong Kong. bukan kamera termahal yang pernah ada, tetapi ini yang paling mahal yang pernah saya punya. 

dan ajaibnya, hanya karena saya sudah tau kenapanya, bukan artinya milik saya ini hadir tanpa drama.    


habis landing, hampir tengah malam, dan entah punya tenaga dari mana kami (waktu itu saya & Faizah berangkat bersama Annisa) memutuskan untuk foto-foto dan cari makan di Lau Pa Sat. sebuah keputusan yang cukup konyol di tahap pemikiran karena untuk menuju Lau Pa Sat yang dekat Raffles Place itu tentu memakan waktu yang lumayan mengingat kami berangkat dari Joo Chiat, naik bus. jadilah sampai di Lau Pa Sat, tentu saja sate yang kita mau sudah habis, tapi malam itu saya dapet foto Lau Pa Sat saat malam hari yang cakep banget. 


setelah dirasa selesai muter muter Lau Pa Sat, kami naik bus dan turun di dekat MBS. kali ini, kami kami ingin jalan jalan di Olympic Walk. my ultimate favorites place in Singapore. 

gimana enggak? decking floor luas berwarna cokelat solid, beberapa bench yang bisa dipakai tidur - tiduran, building lights yang membentang dan terasa seperti bintang - bintang, suspended bridge handrail yang memberi kontras kepada decking floor dengan cermat, dan itu semua berpadu sempurna dengan wangi laut tenang di hadapan.. dan ketika dihirup, wangi laut itu tidak kehilangan kemampuannya untuk mengusir sesak yang ternyata bisa bersembunyi di dalam dada manusia. 

oh iya, sudahkah pernah saya cerita bahwa hal yang paling saya sukai di dunia ini adalah berjalan kaki saat malam hari di Singapura? :)


dan malam itu juga, kamera saya tidak bisa digunakan. keterangannya sih card error ya. tapi saya langsung panik dong. besok flight pagi, dan saya belum pernah ke Hong Kong sebelumnya. jadi ngga' tau deh di mana fujifilm service centre terdekat dari tempat kami tinggal. kalo masih punya waktu di Singapore di hari kerja dan di jam kerja sudah pasti saya dengan yakin menuju Suntec City. nah kali ini lain cerita. apalagi waktu landing di HKIA, alih-alih koper koper kami yang muncul, malah muncul sebuah tulisan besar yang intinya Ms. Faizah Riffat dimohon untuk menghubungi ground crew, dan intinya kami diomongi baik-baik kalo bagasi kami ketinggalan di Singapore dan akan diterbangkan dengan pesawat jam 4 sore. saat itu Hong Kong masih jam 12 siang, tapi lagi Spring (baru kelar winter) dan baju saya tipis banget. kedinginan, kebingungan dan sungguhlah ngurus bagasi + ngurus insurance itu benar benar sudah menguras energi kami. 

bagasi kami akhirnya diantar oleh pihak singapore airlines pada malam hari ke depan gedung apartment kami di Causeway Bay. tapi yah mana punya tenaga lagi kita kan nyari di mana fujifilm service centre terdekat dan berangkat ke sana malam itu juga. jadilah malam itu kami hanya bisa menunggu dengan dengan keinginan super sederhana : segera mandi air hangat, ganti baju yang lebih tebal dan minum tolak angin. karena pilihan berangkat ke Toko Indonesia di Wan Chai untuk membeli tolak angin di cuaca sedingin itu bukan sesuatu yang kami sanggupi.

jadi, selama di Hong Kong, saya ngga' bisa pake kamera sama sekali. setelah nyampe Bontang baru deh saya bisa urus itu kamera. mulai dari tanya-tanya ke temen-temen saya yang emang udah pake fuji lebih dulu untuk tanya-tanya apa masalahnya kamera saya, menemukan solusi dan mengatasinya. 

dan sekarang kamera saya udah bener lagi. saya mulai moto-moto lagi, tapi belum banyak fotonya. 


so, this is me unfold my story.



Thursday, 26 February 2026
XOXO, 



Fatimah 




Comments

Popular posts from this blog

Stepping Away, As One Might from a Crowded Room

Not everything beautiful needs an audience,  a gentle goodbye to step back from social media slowly.  — lately, I’ve been asking myself why the curated noise of social media feels emptier than ever. Raised between legacy and the pursuit of aesthetics, I’ve always gravitated toward beauty that feels  earned  — an old sensibility, if you will. I love a well-composed photograph, a city explored on foot, and stories gathered in solitude rather than on a timeline feed. As an introvert, the endless scroll has started to blur what’s real and what’s performative. So, this is me — stepping back, stepping inward, and reclaiming the art of living offline.  basically, i'm just an ordinary girl and intovert writer, who loves photography so much, and work on family business  as a civil engineer & creative director day-by-day. enjoying a quite coffee shop while i reading a book, or enjoying a decent travel vacation whatever time permit. i'm not an entertainer, ultimat...

Hong Kong ; Halal Food

hanya ada 2 cara untuk mengetahui makanan halal yang ada di Hong Kong dengan pasti :  1. download document yang berupa list halal&vegetarian restaurants yang diterbitkan oleh pemerintah Hong Kong, SAR  2. research sampai muntah Hong Kong memang destinasi yang ramah muslim, tapi bukan berarti segampang itu untuk menemukan makanan halal seperti di Indonesia. bold warning dari orang tua saya ketika saya sedang berada di luar negeri adalah : hati hati dalam makanan (jangan sampai termakan yang syubhat apalagi sampai haram) jangan dekat dekat dengan alkohol, dan jangan masuk ke tempat ibadah orang. karena, kalau sampai termakan yang tidak bersih, maka hal itu berpengaruh langsung kepada ibadah. kalau sampai sembarangan masuk tempat ibadah orang, siap-siap malamnya bisa ngga' bisa tidur. jika dibandingkan dengan Singapura, makanan halal di Singapura tentu lebih banyak pilihan, tapi bukan berarti cari makanan halal di Hong Kong itu sulit. yang penting kita tau dengan pasti lang...

Hong Kong ; Overview & Budget

  secara umum, Hong Kong saya bagi menjadi 4 wilayah :  Hong Kong Island, Kowloon, New Territories & Lantau Island.  selain karena 4 wilayah di Hong Kong ini memiliki fungsi wilayah dan fungsi geografi yang berbeda, karakteristik dan feel di wilayah tersebut juga berbeda, dan ini yang paling penting menurut saya. contohnya seperti New Territories dan Lantau Island . New Territories adalah daerah catchment area yang mana sangat tidak common untuk kita sebagai traveler untuk menginap di sana. unless kita mau naik gunung, tidak terlalu banyak aktivitas sehari-hari yang bisa kita lakukan di wilayah tersebut. begitu juga dengan Lantau Island. basically, Lantau Island adalah pulau di mana HKIA berada. kecuali kita menginap di dalam Disneyland Resort , gagasan menginap di Lantau Island rasanya agak sedikit mengherankan karena Lantau Island ini adalah daerah pelabuhan kontainer. jadi, jika ingin menginap di Hong Kong sebaiknya di mana? tentu jawabannya tergantung, y...