dan mimpi itu terwujud di salah satu mushola sebelum boarding gate, di satu hari di tahun 2023.
pagi itu, saya berangkat ke Bandara Juanda dari Darmo tidak terlalu early. yang penting ngga' kena jam macet di deket Aloha, yang penting cukup waktu untuk mengantarkan saya kepada line imigrasi yang tidak terlalu antri.
imigrasi selalu menjadi variabel acuan untuk saya, sehingga saya hampir selalu datang ke bandara secepat yang saya bisa. karena durasi berapa di line itu sampai lolos itu jujur hanya Tuhan yang tau berapa lamanya.
cuaca yang panas rupanya tidak menghalangi keramaian suasana terminal internasional di area check-in. sepertinya memang di kota ini kepergian adalah sesuatu yang hangat, tidak heran banyak sekali yang orang-orang sampai saya bingung yang mana pengantar, yang mana penumpang sampai avsec lah yang menegaskan batas itu.
hari itu saya terbang hanya dengan cabin luggage, dan karena pesawat saya hari itu sedang full pax, maka mbak mbak ground crew di balik counter check-in menawarkan option untuk cabin luggage saya dimasukan sebagai check-baggage tanpa biaya yang dengan senang hati tawaran ramah tersebut saya terima. jadilah, saya bisa berjalan-jalan hanya dengan membawa tote bag yang isinya selalu terasa seperti seluruh hidup saya.
setelah melewati imigrasi, saya cuma ingin solat.
solat dhuha, sebelum boarding.
saya ingin menyampaikan terima kasih. terima kasih untuk surabaya. untuk semua versi diri saya yang pernah hidup di kota ini. untuk kenangan baik yang membuat hati saya melembut, dan kenangan pahit yang membuat saya memiliki kelapangan hati lebih dari yang pernah saya pikir.
surabaya memberi saya keduanya.
kota yang memberi kenyamanan sekaligus kebingungan. kota yang memberi orang-orang hangat dan pelajaran sulit. kota yang memberi perayaan gembira sekaligus belajar bertahan sendirian.
karena Surabaya, saya memahami bahwa perpisahan juga pantas diperlakukan dengan lembut.
— Fatimah Marifah
Comments
Post a Comment